“Kamu mau standar apa? Tinggi? Sedang? Atau rendah?”
Sebuah kalimat yang tidak pernah saya lupakan ketika pertama
masuk MP.
Pertanyaan yang dilontarkan Kak
Ananta tentang standar itu saya dapati ketika pertama kali mengikuti sebuah lomba
mini news paper di Universitas Negeri Malang. Saya, yang baru saja diterima di
SMAN 3 Denpasar lewat jalur prestasi jurnalistik tiba-tiba diminta mengikuti lomba itu.
Padahal untuk bercakap-cakap dengan pembinanya (Kak Ananta) saja saya sungguh
sangat jarang. Jangankan untuk bercakap, pemberian materi ekstra untuk anggota
baru saja belum.
Setelah dilontarkan dengan pertanyaan, waktunya saya menjawab. Saya menatap Kak Ananta. Kak Ananta menatap saya. Ya iyalah. Tapi, dengan percaya dirinya saya menjawab, “Tinggi kak". Oh sungguh bangganya saya. Lalu saya tersenyum kemenangan. Kak Ananta juga tersenyum, tapi senyum Kak Ananta memang punya banyak arti. Rupanya, ada neraka yang menanti saya dibalik itu.
Jadi begitulah saya,
bersama dua orang teman baru saya; Pradnya dan Dyo. Pradnya yang merupakan
saingan lomba saat SMP dan Dyo yang namanya sangat susah diucapkan (Dyotavaro). Kami bertiga tidak hanya akan bersaing dengan peserta luar sekolah, tapi juga
dengan kakak kelas sendiri. Bayangkan saja, hal yang pertama kali saya rasakan
adalah rasa minder yang amat sangat. Berasa seperti biji jagung diantara
berlian-berlian.
Untuk memilih standar
tinggi, perlu perjuangan yang sangat tinggi hingga Kak Ananta meng-iya-kan
tulisan kita, tinggi sekali dan mengalami revisi berkali-kali. Bahkan untuk leadnya saja saya bisa mengubahnya
hingga sekitar 5 kali. Tapi tetap tidak disetujui. Alhasil, karena saya kesal,
saya menghapus kalimat terakhir. DAN AKHIRNYA, DISETUJUI. Rasanya saya pingin
ngengek, otak saya juga pingin ngengek, semua pingin ngengek. Kenapa gak dari tadi gitu lho. Tapi itu
baru lead saja, belum tulisan secara
keseluruhan. Saya frustasi, revisi tak kunjung selesai, bulan mulai menyapa
langit, keringat dingin, bintik-bintik, lalu saya cacar ditempat (ngayal). Hingga
saya berkata, “Kak, saya milih sedang aja”. Terus Kak Ananta tertawa, puas
sekali sepertinya. Akhirnya tulisan saya disetujui, tapi tentunya dengan
standar sedang. Dan hingga sekarang, pengalaman ini, selalu menjadi bahan
ejekan Kak Ananta untuk saya.
| revisi oh revisi.............. |
Tapi satu hal yang sangat saya ingat adalah bagaimana usaha kakak kelas MP untuk mendapatkan juara. Mereka gila menurut saya kala itu. Tulisannya benar-benar gila. Idenya sangat gila. Wawasannya apalagi. Saya sangat tidak mengerti, mengapa bisa ada murid-murid seperti itu. Memiliki tekad yang kuat, tapi juga sejalan dengan kerja yang keras. Hingga pada akhirnya mereka menjadi juara. Sedangkan kelompok saya? Jangan berharap untuk sebuah standar sedang. Hadeuh, Gusti.
Membahas kakak kelas, di MP
saya mengenal banyak kakak kelas bahkan kakak kelas yang sudah tamat. Mereka
sangat peduli dengan perkembangan MP. Mereka selalu bersedia untuk bebagi
pengalaman bahkan ilmu. Mereka juga bisa menjadi sebuah cambuk yang siap
mencamuk-camuk kita jika kita mengalami penurunan kualitas. Mereka siap
mengkritik dengan sangat tajam, bahkan hingga membuat jatuh. Dan saya pernah
merasakan itu. Ketika saya mendapat juara 2 lomba akademika tingkat region.
Banyak tekanan yang saya rasakan dari alumni. Lalu saya tersedu-sedu menangis
di jalan saat pulang dari sekolah. Merasa bahwa saya gagal menjadi anak MP. Saya kecewa dengan diri saya sendiri. Tapi baru
saya sadari, mereka seperi itu karena memang seperti itu cara mereka mendidik.
Dan akibat dari tekanan itu, saya mampu untuk bangkit lagi.
Membahas akademika, akan
saya ceritakan sedikit. Setelah saya mengerti bagaimana pola pikir sebagai anak
MP : kalau mau juara ya harus langkah juara. Saya mulai meyakinkan diri untuk
menyiapkan mental. Akademika itu tidak mudah untuk dilewati. Berbagai seleksi
yang menguras otak, serta kekuatan mental benar-benar diuji. Tahap demi tahap,
ratusan hingga ribuan kata, bersaing dengan kakak kelas sendiri, dan banyak hal
yang diujikan untuk lolos masuk menjadi 20 orang yang akan mengikuti lomba
tersebut. Singkat cerita akhirnya saya lolos, menjadi bagian dari kelompok itu
dan tidak menyangka ditempatkan sebagai penulis Laput 1. Padahal saya sangat
takut, tapi saya terlalu munafik jika mengatakan tidak ingin.
Dengan keinginan itu,
setiap harinya saya selalu membeli koran sebagai bahan refrensi, membolak balik
buku yang diberikan Kak Ananta, memperdalam materi hingga larut malam lalu
bangun saat dini hari untuk lebih menguasainya. Lalu saya pernah muntah di pagi
harinya karena benar-benar dijenuhi dengan materi-materi yang harus dipelajari. Tapi saya tidak mempermasalahkan itu, karena saya sudah berkata pada ayah saya
bahwa saya akan mendapat laporan utama terbaik seBali. Saya ingin berkomitmen
dengan impian saya. Saya tidak ingin mengecewakan diri saya maupun orang lain. Akhirnya, saya mendapatkan Laput terbaik tingkat region
serta Laput Terbaik tingkat seprovinsi Bali. Bangganya saya atas usaha saya. Dan
kami semua, Madyapadma, mendapat juara 1 tingkat provinsi Bali.
| penulis-penulis berita terbaik |
Saya memang bangga, tapi
saya tidak begitu bangga ketika melihat teman saya menangis atas kemenangan
ini. Padahal kami berlomba membawa nama Madyapadma. Tapi ketika nama itu
disebutkan sebagai juara, mereka menangis karena kekalahan. Saya mengerti,
tidak semua dapat gelar terbaik, tapi bagi saya mereka berjuang dengan sangat
baik. Teman saya, Adnya, yang juga menulis Laput sependapat dengan saya. “Luh,
kita memang menang tapi rasanya kayak lagi
gak menang ya”. Kata dia.
“1... 2... 3... MP TRISMA!!!”



