Minggu, 17 Juli 2016

Hanya. Itu Saja.




















Sebuah plang putih mendulang di dekat sawah Renon. Diam dan tegak, terlewatkan begitu saja. ‘Tanah milik pemerintah Kota Denpasar’, mengisyaratkan bahwa tanah yang tertancapkan besi putih itu merupakan lahan konservasi Kota Denpasar. Namun, plang itu, hanya sebuah plang. Tiada arti bagi paving-paving yang tergeletak sekitar 1 meter dari plang itu. Seperti menanti kuli bangunan untuk menggarapnya. Seperti itu pula yang terjadi pada petani-petani di Renon. Terkulai menanti penyelamat sawah. Wayan Mara adalah salah satunya. Tatkala matahari terik menari di langit, ia tetap sibuk menggarap sawahnya. Namun, kebanyakan yang dilakukan menatap kosong hamparan hijau di depannya, atau meratapi apakah kehijauan itu akan berganti menjadi paving yang sudah siap bersetubuh dengan tanah. Harapannya begitu jelas tertulis dalam baju yang ia kenakan. Sebuah baju partai ‘banteng merah’ yang sedang mengobral janji untuk mendapat kursi kekuasaan. Berharap bahwa dukungannya bisa menolong lahan sawah para petani Renon di  tengah pembangunan kota. Tapi yang ada kini, hanya sebuah sumbangan plang putih, terlewatkan begitu saja, tak tegas menantang pembangunan di sekelilingnya. Bahkan untuk mengusir gundukan paving pun, ia tak berdaya.







0 komentar:

Posting Komentar