Kamis, 07 Juli 2016

Pendidikan Indonesia : Sebuah Tombak Tumpul


                Pendidikan merupakan faktor utama untuk menunjang majunya suatu negara. Pendidikan yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga dapat memanfaatkan peluang-peluang untuk berkembang dengan baik. Akan tetapi, hal seperti ini tidak terjadi di Indonesia.  Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific dan Cultural Organization (UNESCO), terhada[ kualitas di nega-negara berkembang di Asia Pasific. Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kualitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. (dikutip dari van88.wordpress.com).

            Dengan peringkat seperti itu, Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud), melakukan 11 kali pergantian kurikulum pendidikan nasional. Kurikulum tahun 1947, yang disebut dengan Rencana Pelajaran Dirinci Dalam Rencana Pelajaran Terurai, terimplementasi selama 17 tahun dan mengalami perubahan pada tahun 1964, dengan kurikulum yang disebut dengan Rencana Pendidikan Dasar yang hanya terimplementasi selama 4 tahun. Lalu, tahun 1968, dengan Kurikulum Sekolah Dasar yang diubah pada tahun 1974, dengan Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan dan hanya 1 tahun kemudian, yaitu tahun 1975, diubah kembali menjadi Kurikulum Sekolah Dasar. Lalu, pada tahun 1984, Kurikulum Sekolah Dasar, diubah menjadi Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (K-CBSA). Setelah terimplementasi selama 10 tahun, CBSA diubah menjadi Kurikulum 1994, dan kurikulum ini direvisi pada tahun 199. Pada tahun 2004, Kurikulum CBSA mengalami perubahan yang cukup signifikan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), lalu berusaha disempurnakan pada tahun 2006 dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTPS). Dan, tahun 2013 ini pemerintah kembali menerapkan kurikulum baru yang saat ini sudah terimplementasi. (dikutip dari http://www.kompasiana.com).  Lantas, apa sebenarnya yang salah dengan pendidikan Indonesia sehingga mengalami evaluasi-evaluasi bahkan merombak secara keseluruhan dari kurikulum tersebut?

            Sebuah kurikulum mengalami perubahan baik itu diberi penambahan atau pengurangan salah satu poin-poin di dalamnya karena melihat kondisi terakhir yang terjadi di dalam negaranya. Yang terjadi selama ini di Indonesia adalah; dari faktor pengajar, kurang kreatif dalam melakukan proses mengajar. Anak-anak yang memiliki karakter dan kreativitas yang berbeda tentu akan memiliki cara belajar yang berbeda-beda pula. Namun, pendidik justru tidak bertolak ukur pada faktor tersebut, melainkan hanya menentukan satu metode mengajar untuk membentuk satu karakter siswa yang ia inginkan. Pendidik tidak mengeksplor serta menggali potensi siswa dengan baik sehingga yang menjadi fokus hanyalah apakah materi tersebut sudah tersempaikan sesuai dengan waktu yang diberikan. Sebenarnya pengajar termasuk faktor utama untuk menentukan apakah pendidikan dapat terimplementasi dengan baik atau tidak. Karena jika metode mengajar yang salah, maka akan salah pula generasi yang dihasilkan. Selain pengajar, faktor mengapa kurikulum mengalami perubahan adalah tentu karena kegagalan kurikulum yang sebelumnya. Dimana kurikulum sebelumnya memberatkan siswa untuk memahami seluruh pelajaran baik itu dalam pelajaran hitung-menghitung maupun hafal-mengafal, dan harus mencapai suatu standar nilai untuk mencapai lulus atau tidaknya seorang siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

            Yang paling pertama terkena imbasnya adalah siswa. karena siswa yang menjadi tolak ukur untuk menentukan apakah kurikulum tersebut berhasil atau tidak. Lihat saja, bahkan kita bisa merasakannya sendiri. Kita memiliki karakter berbeda-beda dan tentu tidak bisa disamakan melalui satu metode pengajaran. Dengan setiap harinya kita hanya duduk di kelas dan mendengar ceramah guru tentu tidak efektif untuk menyampaikan sebuah materi. Karena sesuai dengan pembagian otak manusia, ada 5 karakter umum yang ditimbulkan; insting, thinking, intuiting, sensing, dan feeling. Tentu setiap menusia masing-masing hanya memiliki satu karakter dari kelima tersebut. Pada anak tipe insting, dalam proses belajarnya harus dibarengi dengan pengembangan insting, pada anak tipe thinking dalam proses belajarnya perlu ditekankan pada metode analisa dan nalar, pada anak tipe intuiting dalam proses belajarnya perlu ditekankan kepada kreativitas dan imajinasi, pada anak tipe sensing dalam proses belajarnya lebih ditekankan kepada proses mengahafal, mengingat, serta meniru, pada anak tipe feeling dalam proses belajarnya ditekankan kepada fungsi indera pendengarannya dimana anak akan menyerap mentah-mentah apa saja yang didengarkannya. Dengan tipe-tipe yang banyak serta metode belajar yang berbeda-beda, tentu tidak bisa dipaksakan menjadi satu metode. Yang terjadi jika dipaksakan hanyalah akan menjadi sebuah kegagalan dalam proses belajar-mengajar.


            Untuk itu, pendidik perlu kreatif dalam menjalankan tugas mengajar dengan melakukan banyak metode secara bergiliran, misalnya, dengan memberikan alat peragaan, dengan menghafal sebuah teori, atau belajar di luar kelas sembari bermain. Dengan seperti itu, maka anak didik dapat paham dengan cara mereka sendiri. Dan bukan menjadi sebuah robot yang terbentuk dengan kehendak guru sendiri. Pendidikan harusnya menjadi tombak tajam untuk menjadi ‘senjata pelindung’ sebuah negara. Dengan ‘tombak tumpul’ yang dimiliki Indonesia, harus diasah kembali menjadi tombak tajam untuk melindungi segenap bangsa indonesia dari jajahan bangsa lain. (gsw)

0 komentar:

Posting Komentar