Rabu, 29 Juni 2016

Satu Tahun bersama Madyapadma


“Kamu mau standar apa? Tinggi? Sedang? Atau rendah?”

Sebuah kalimat yang tidak pernah saya lupakan ketika pertama masuk MP.

Pertanyaan yang dilontarkan Kak Ananta tentang standar itu saya dapati ketika pertama kali mengikuti sebuah lomba mini news paper di Universitas Negeri Malang. Saya, yang baru saja diterima di SMAN 3 Denpasar lewat jalur prestasi jurnalistik tiba-tiba diminta mengikuti lomba itu. Padahal untuk bercakap-cakap dengan pembinanya (Kak Ananta) saja saya sungguh sangat jarang. Jangankan untuk bercakap, pemberian materi ekstra untuk anggota baru saja belum.


Setelah dilontarkan dengan pertanyaan, waktunya saya menjawab. Saya menatap Kak Ananta. Kak Ananta menatap saya. Ya iyalah. Tapi, dengan percaya dirinya saya menjawab, “Tinggi kak". Oh sungguh bangganya saya. Lalu saya tersenyum kemenangan. Kak Ananta juga tersenyum, tapi senyum Kak Ananta memang punya banyak arti. Rupanya, ada neraka yang menanti saya dibalik itu.

Jadi begitulah saya, bersama dua orang teman baru saya; Pradnya dan Dyo. Pradnya yang merupakan saingan lomba saat SMP dan Dyo yang namanya sangat susah diucapkan (Dyotavaro). Kami bertiga tidak hanya akan bersaing dengan peserta luar sekolah, tapi juga dengan kakak kelas sendiri. Bayangkan saja, hal yang pertama kali saya rasakan adalah rasa minder yang amat sangat. Berasa seperti biji jagung diantara berlian-berlian.

Untuk memilih standar tinggi, perlu perjuangan yang sangat tinggi hingga Kak Ananta meng-iya-kan tulisan kita, tinggi sekali dan mengalami revisi berkali-kali. Bahkan untuk leadnya saja saya bisa mengubahnya hingga sekitar 5 kali. Tapi tetap tidak disetujui. Alhasil, karena saya kesal, saya menghapus kalimat terakhir. DAN AKHIRNYA, DISETUJUI. Rasanya saya pingin ngengek, otak saya juga pingin ngengek, semua pingin ngengek. Kenapa gak dari tadi gitu lho. Tapi itu baru lead saja, belum tulisan secara keseluruhan. Saya frustasi, revisi tak kunjung selesai, bulan mulai menyapa langit, keringat dingin, bintik-bintik, lalu saya cacar ditempat (ngayal). Hingga saya berkata, “Kak, saya milih sedang aja”. Terus Kak Ananta tertawa, puas sekali sepertinya. Akhirnya tulisan saya disetujui, tapi tentunya dengan standar sedang. Dan hingga sekarang, pengalaman ini, selalu menjadi bahan ejekan Kak Ananta untuk saya. 

revisi oh revisi..............

Tapi satu hal yang sangat saya ingat adalah bagaimana usaha kakak kelas MP untuk mendapatkan juara. Mereka gila menurut saya kala itu. Tulisannya benar-benar gila. Idenya sangat gila. Wawasannya apalagi. Saya sangat tidak mengerti, mengapa bisa ada murid-murid seperti itu. Memiliki tekad yang kuat, tapi juga sejalan dengan kerja yang keras. Hingga pada akhirnya mereka menjadi juara. Sedangkan kelompok saya? Jangan berharap untuk sebuah standar sedang. Hadeuh, Gusti.

Membahas kakak kelas, di MP saya mengenal banyak kakak kelas bahkan kakak kelas yang sudah tamat. Mereka sangat peduli dengan perkembangan MP. Mereka selalu bersedia untuk bebagi pengalaman bahkan ilmu. Mereka juga bisa menjadi sebuah cambuk yang siap mencamuk-camuk kita jika kita mengalami penurunan kualitas. Mereka siap mengkritik dengan sangat tajam, bahkan hingga membuat jatuh. Dan saya pernah merasakan itu. Ketika saya mendapat juara 2 lomba akademika tingkat region. Banyak tekanan yang saya rasakan dari alumni. Lalu saya tersedu-sedu menangis di jalan saat pulang dari sekolah. Merasa bahwa saya gagal menjadi anak MP. Saya kecewa dengan diri saya sendiri. Tapi baru saya sadari, mereka seperi itu karena memang seperti itu cara mereka mendidik. Dan akibat dari tekanan itu, saya mampu untuk bangkit lagi.

Membahas akademika, akan saya ceritakan sedikit. Setelah saya mengerti bagaimana pola pikir sebagai anak MP : kalau mau juara ya harus langkah juara. Saya mulai meyakinkan diri untuk menyiapkan mental. Akademika itu tidak mudah untuk dilewati. Berbagai seleksi yang menguras otak, serta kekuatan mental benar-benar diuji. Tahap demi tahap, ratusan hingga ribuan kata, bersaing dengan kakak kelas sendiri, dan banyak hal yang diujikan untuk lolos masuk menjadi 20 orang yang akan mengikuti lomba tersebut. Singkat cerita akhirnya saya lolos, menjadi bagian dari kelompok itu dan tidak menyangka ditempatkan sebagai penulis Laput 1. Padahal saya sangat takut, tapi saya terlalu munafik jika mengatakan tidak ingin.   

Dengan keinginan itu, setiap harinya saya selalu membeli koran sebagai bahan refrensi, membolak balik buku yang diberikan Kak Ananta, memperdalam materi hingga larut malam lalu bangun saat dini hari untuk lebih menguasainya. Lalu saya pernah muntah di pagi harinya karena benar-benar dijenuhi dengan materi-materi yang harus dipelajari. Tapi saya tidak mempermasalahkan itu, karena saya sudah berkata pada ayah saya bahwa saya akan mendapat laporan utama terbaik seBali. Saya ingin berkomitmen dengan impian saya. Saya tidak ingin mengecewakan diri saya maupun orang lain. Akhirnya, saya mendapatkan Laput terbaik tingkat region serta Laput Terbaik tingkat seprovinsi Bali. Bangganya saya atas usaha saya. Dan kami semua, Madyapadma, mendapat juara 1 tingkat provinsi Bali.

penulis-penulis berita terbaik 

Saya memang bangga, tapi saya tidak begitu bangga ketika melihat teman saya menangis atas kemenangan ini. Padahal kami berlomba membawa nama Madyapadma. Tapi ketika nama itu disebutkan sebagai juara, mereka menangis karena kekalahan. Saya mengerti, tidak semua dapat gelar terbaik, tapi bagi saya mereka berjuang dengan sangat baik. Teman saya, Adnya, yang juga menulis Laput sependapat dengan saya. “Luh, kita memang menang tapi rasanya kayak lagi  gak menang ya”. Kata dia.

Semua hal-hal hebat diatas tak akan bisa tanpa seseorang, yaitu Kak Ananta. Beliau yang mengajarkan saya untuk lebih membuka mata, berpikir dewasa, dan tegar tentunya. Beliau bukan hanya seorang pembina bagi saya, beliau juga seorang ayah, guru kehidupan, sahabat, apa saja. Beliau murah senyum dan mudah tertawa. Tapi kalau lagi diem ya keliatan kayak orang jutek gitu sih kak. Serem. Beliau juga bersedia menampung rasa galau saya yang tak membendung, beliau juga seorang malaikat ketika saya merasa dunia saya benar-benar tidak ada harapan, beliau menawarkan banyak cara untuk berprestasi, beliau adalah orang hebat yang selalu mencetak orang-orang hebat pula. Namun layaknya seorang ayah, beliau juga mendidik dengan keras, bersikap tegas bahkan ketika kita dihadapi oleh pilihan yang sulit, harus bertanggung jawab atas apa pilihan yang telah kita pilih, dan sikap patang menyerah yang selalu beliau tanamkan pada kami, anak-anak MP. “Kamu boleh capek, tapi kamu gak boleh nyerah” begitu katanya. 

sebuah keluarga

Banyak hal yang saya dapatkan di MP, mulai dari mengikuti pelatihan-pelatihan dan menyelenggarakan sebuah event besar. Semua itu tidak bisa saya jabarkan satu-persatu karena akan banyak menghabiskan halaman. Tapi satu hal yang saya benar-benar dapatkan di MP adalah sebuah keluarga. Keluarga yang memiliki daya juang yang sama. Memiliki tujuan yang kuat. Sehingga bersama-sama bisa mencapai sesuatu yang awalnya dianggap tidak mungkin menjadi hal yang sangat mungkin. 


“1... 2... 3... MP TRISMA!!!”



10 komentar:

  1. Hello! Makasih sudah berbagi pengalamanmu selama ber-Madyapadma~ boleh loh cek pengalamanku juga di > imangeblog.blogspot.com < KEEP UP THE SPIRIT~!

    BalasHapus
  2. yay galuh.... mantap kwkwkwkwkwk salam cogan~!

    BalasHapus
  3. halo makasih sudah berbagi pengallaman setahun bersama MP

    BalasHapus
  4. Dari sekian blog, cuma ini aja yg aku baca.
    Keren luh πŸ‘

    BalasHapus
  5. Perjuanganmu sangat mengharukan. Mantapp luhhh πŸ™ŒπŸ˜‚

    BalasHapus
  6. Keren sumpah, inspiratif, kocak, ketawa aku baca luh , kerenn, sukses galuhπŸ‘

    BalasHapus
  7. Wihh gantengπŸ‘πŸ‘πŸ‘
    Kunjungi juga blog tiang www.pinkclips.mobi

    BalasHapus